Articles

Semarang; dari Gereja Blenduk hingga GOR Simpang Lima

In Semarang on Mei 8, 2006 by nonblogs

Semarang kaline banjir …
Itulah sepenggal lagu yang sangat terkenal, menggambarkan betapa identiknya Semarang dengan banjir. Jika anda tinggal di Semarang, ataupun pernah singgah sebentar dan menyempatkan jalan-jalan ke daerah utara Semarang, niscaya lagu itu memang benar. Betapa tidak, musim kemarau pun Semarang tetap banjir. Meskipun sudah ada polder yang katanya dapat mengurangi rob, tetapi pada kenyataanya genangan air setiap sore tetap saja menggenangi Semarang bagian utara. Mulai dari Stasiun Tawang dan kota lama, daerah Petek, hingga Perumahan Tanah Mas.

Meskipun terkenal dengan banjir, sebenarnya Semarang salah satu kota yang paling unik di Indonesia. Di bagian utara, Semarang berbatasan dengan Laut Jawa. Dan jika anda pergi ke selatan, dengan jarak yang tidak terlalu jauh, anda akan melewati dataran yang cukup tinggi. Dimulai dari Candi hingga puncaknya di Gombel, yang terkenal dengan tanjakannya yang cukup tajam. Punya daerah pantai, sekaligus memiliki daerah perbukitan! Jadi anda akan merasa takjub jika melihat dari arah perbukitan suasana kota Semarang yang sangat panas sekaligus pemandangan lautnya. Belum pernah saya temui kombinasi yang cukup unik seperti ini.

Satu keunikan lagi yang dimiliki Semarang yakni kawasan kota lama. Kawasan di sekitar jembatan mberok hingga Stasiun Tawang ini dihiasi dengan gedung-gedung berasitektur Belanda. Mulai dari gedung yang ditempati Bank Mandiri, Jakarta Loyd, dan yang paling terkenal yakni Gereja Blenduk. Disebut blenduk karena atap gereja itu berbentuk kubah mlengkung yang kalau orang jawa bilang mblenduk. Cuma sayang, banyak bangunan yang kurang terawat, disamping juga kawasan ini paling sering di serang rob, air pasang yang masuk ke darat. Jadi membuat kawasan ini terasa kurang terawat. Sungguh sayang.

Sebenarnya masih beruntung gedung-gedung di kota lama itu masih ada hingga kini. Karena banyak bangunan yang sebenarnya cukup bersejarah di kota ini, lenyap karena kepentingan bisnis. Kantor bupati Semarang misalnya, dulu terletak di daerah alun-alun Semarang serta di dekatnya seperti layaknya kota-kota di Jawa terdapat Masjid Besar Kauman. Tapi sekarang kantor bupati itu menjelma menjadi pusat perbelanjaan Kanjengan, yang sekarang menjadi terlihat sangat tidak terawat. Dan alun-alun Semarang berubah menjadi Pasar Ya’ik, yang letaknya bersebelahan dengan Pasar Johar.

Mungkin rasa kehilangan daerah itu hanya berlaku buat orang-orang yang pernah hidup di tahun sebelum 60-70an. Sedangkan buat orang-orang yang hidup di era 70an hingga 80an, mengalami juga apa yang pernah dirasakan oleh ayah atau kakek-neneknya. Yakni kehilangan gedung yang cukup membawa banyak nostalgia yakni GOR Simpang Lima.

Letaknya cukup strategis yakni di Simpang Lima, daerah pusat kota Semarang yang menjadi pengganti dari alun-alun Semarang. Disebelah barat GOR Simpang Lima, terdapat Masjid Baiturrahman dan disebelah timur ada Wisma Pancasila yang akhirnya pun lenyap dan berubah wajah menjadi Plasa Simpang Lima, pertokoan berlantai 7.

Sudah tak terhitung berapa event yang terselenggara di tempat ini, mulai dari olah raga hingga konser musik. Mulai dari tingkat nasional hingga lokal, bahkan tingkat sekolahan. Karena saya sendiri pernah ikut ekstra kurikuler bulutangkis sewaktu SMA dulu, dan latihannya tidak tanggung-tanggung yakni di GOR Simpang Lima!.

Di tempat ini pula, Ahmad Albar mengalami dua peristiwa yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan yakni, saat rencana konsernya di tempat ini dilarang oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu (saya lupa apakah Ismail atau Suparjo Rustam) karena dianggap tidak sesuai dengan budaya Jawa Tengah. Dan yang kedua, kebangkitan God Bless di era 80an dimulai dengan konser tur Jawa Bali yang kota pertamanya yakni Semarang. Dengan promotor Log Zelebour, God Bless pada konser itu berusaha mengangkat kembali namanya dengan membawakan lagu-lagu Deep Purple. Konsernya sendiri diawali Jaguar dengan vokalisnya almarhun Miki Jaguar dengan membawakan lagu-lagu Rolling Stones, dan dilanjutkan El Pamas, grup dari kota kecil yakni Pandaan (Jawa Timur) yang dimotori Toto Tewel pada gitar dan Eky Lamoh sebagai vokalis. El Pamas saat itu mengusung lagu-lagu Led Zeppelin.

Sedangkan event lokal yang cukup membawa banyak nostalgia bagi anak muda Semarang pada waktu itu adalah Festival Band antar SMA. Promotornya sekelompok anak muda yang cukup terkenal di Semarang yakni SEC. Festival ini benar-benar menjadi barometer musik di Semarang pada saat itu. Favorit juara pada tidak pernah beranjak dari SMA Loyola, SMA 1, SMA 3. Tiga sekolah favorit di Semarang itu seolah mendapat giliran juara.

Sayang, semua itu lenyap di akhir 80an. Saat GOR Simpang Lima ditukar guling dengan Mal Citraland dan Hotel Ciputra. Dan sebagai gantinya, pengembang membangun GOR Jatidiri di kawasan Karang rejo. Alasan yang dipakai pada saat itu, yakni jika ada kegiatan besar di GOR Simpang Lima, mengakibatkan kemacetan di kawasan Simpang Lima. Padahal kenyataan sekarang, dengan adanya Mal Citraland dan Hotel Ciputra, kawasan Simpang Lima dan jalan Anggrek yang letaknya di belakang Mal Citraland, mengalami kemacetan yang tiada pernah berhenti. Jadi kalau dulu macet jika ada kegiatan besar, sedangkan sekarang setiap hari macet, karena tempat parkir di Mal itu memang sangat terbatas.

Setelah GOR Simpang Lima menjadi korban, sepertinya para investor tidak berhenti melakukan perburuan. Salah satu yang pernah diburu yakni Kampus Undip Pleburan dan STM Pembangunan di Simpang Lima. Beruntung Kampus Undip Pleburan akhirnya terselamatkan, dan sekarang tinggal STM Pembangunan yang masih berjuang agar tidak punah dijarah investor.

Pak Gub, Pak Wali, mosok masih kurang sih …..


3 Tanggapan to “Semarang; dari Gereja Blenduk hingga GOR Simpang Lima”

  1. pak wali tolong selamatkan kota semarang sebelum tenggelam???????????????????????????

  2. masih teringat th.1975 saya pernah nonton malam apreasi budaya di GOR Simpanglima yang di selenggarakan oleh Kanwil P dan K (Depdikbud/Depdiknas) malah bintang tamunya Hety Koes Endang.dalam apreasi budaya ditampilkan seni budaya dari berbagai daerah yang ada di Jateng dan Koes Plus, Usman Bersaudara juga pernah tampil di GOR.pada th.1979 bulan Juli jateng menjadi tuan rumah MTQ yang ke 11 yang dibuka oleh Presiden RI ( Bp. Soeharto )dilaksanakan di GOR juga.

    • Setiap pemimpin di Semarang/Jawa Tengah entah kenapa menggusur bangunan menarik di Semarang. Wisma Pancasila, Alun alun Semarang dll demi kepentingan sesaat. sayang sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: