Articles

Lambat itu Indah

In books, Living, Working on Oktober 11, 2006 by nonblogs

Siapa bilang lambat itu negatif? Mungkin dibenak kita selama ini, kata lambat, sering berkonotasi serba negatif. Bisa berarti bodoh,lelet. Tapi benarkah demikian?

Boleh jadi pemikiran seperti itu, sekarang perlu dipinggirkan. Silahkan baca In Praise of Slow. Sejak dari halaman depan hingga bagian akhir buku ini seolah menyadarkan kita, bahwa kita sebenarnya butuh KELAMBATAN.

Contoh paling aktual, saat kita sholat, butuhkah kita akan kecepatan?

Dunia sekarang memang menuntut serba cepat. Kecepatan komputer yang semakin dahsyat dengan siklus yang semakin pendek. Berbagai tekhnologi diciptakan untuk menunjang pekerjaan kita supaya lebih cepat selesai. Begitu pekerjaan selesai, benarkah betul-betul selesai? Yang terjadi mungkin malah pekerjaan baru yang segera datang. Akibatnya, kita jadi miskin waktu. Manusia yang diciptakan Allah, setelah adanya alam semesta, malah menjadi budak. Bukan menjadi tuan bagi alam.

Dengan tuntutan kecepatan yang semakin dahsyat, tidak kita sadari ada pihak-pihak yang menjadi korban. Bisa anak kita, keluarga, saudara, hobi. Walaupun sebenarnya kalau kita sadari, jika kita berlama-lama di tempat kerja malah mengakibatkan tidak produktif, mudah membuat kesalahan, ketidakbahagiaan, dan sakit. Bahkan mati!

Di Jepang, ada istilah “karoshi” yang berarti “mati karena kerja”. Korban paling terkenal dari karoshi adalah Kamei Shuji, seorang pialang saham yang bekerja secara rutin selama 90 jam per minggu selama berminggu-minggu, ketika pasar saham Jepang mengalami booming pada akhir 1980an. Dengan kesuksesannya, dia menjadi standar bagi perusahaan. Shuji diminta melatih seniornya dalam hal seni penjualan. Dan ketika pasar saham Jepang mengalami penggelembungan pada 1989, Shuji bekerja lebih lama lagi. Dan di akhir 1990an tiba-tiba terkena serangan jantung, dan meninggal pada usia 26 tahun. Tragis!.

Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menghentikan aktivitas kita?.

Tips dari Carl Honore (penulis buku ini) adalah:

  • Leave holes in the diary rather than striving to fill every moment with activity. Easing the pressure on your time will help you to slow down.
  • Set aside a time of day to turn off all the technology that keeps us buzzing – phones, computers, pagers, email, television, radio. Use the break to sit quietly somewhere, alone with your thoughts. Or try meditating.
  • Make time for at least one hobby that slows you down, such as reading, painting, gardening or yoga.
  • Eat supper at the table instead of balancing it on your lap it in front of the TV.
  • Always monitor your speed. If you’re doing something more quickly than you need to simply out of habit, then take a deep breath and slow down.

3 Tanggapan to “Lambat itu Indah”

  1. Ya tergantung sikon donk om..
    Kalo kita lagi berkendara, trus di depan udah mulai menunjukkan lampu merah, ya tentu kita harus melambatkan kendaraan. Kalo ga, bisa tabrakan nanti.. minimal kena semprit pak pulisi lho..πŸ˜€

  2. Ya tergantung sikon donk om..Kalo kita lagi berkendara, trus di depan udah mulai menunjukkan lampu merah, ya tentu kita harus melambatkan kendaraan. Kalo ga, bisa tabrakan nanti.. minimal kena semprit pak pulisi lho..πŸ˜€

  3. Ya tergantung sikon donk om..
    Kalo kita lagi berkendara, trus di depan udah mulai menunjukkan lampu merah, ya tentu kita harus melambatkan kendaraan. Kalo ga, bisa tabrakan nanti.. minimal kena semprit pak pulisi lho..πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: