Articles

Saatnya Berhenti Sejenak

In Working on Oktober 16, 2006 by nonblogs

Salah satu hobi yang saya sesali adalah membaca. Kenapa? Kenapa baru sekarang saya mempunyai hobi membaca? Saya membayangkan jika, hobi itu timbul dulu saat masih dibangku sekolah atau kuliah. Mungkin hasil belajar saya dulu akan lain hasilnya.

Karena saya dulu termasuk murid atau mahasiswa yang biasa saja. Sempat mengalami ”masa keemasan” sebagai murid saat kelas satu sampai dengan kelas dua SD. Dan selanjutnya pelan-pelan masuk masa ”warna-warni” dengan adanya tinta merah di raport sejak kelas tiga SD. Masa itu berlanjut hingga kelas satu SMA.

Dan secara tidak sengaja, mulai meraih kembali ”masa keemasan” saat duduk di kelas 2 SMA. Itupun saya nikmati hanya kira-kira 2 tahun hingga saat bisa menembus UMPTN tahun 1991. Setelah itu kembali menjadi biasa-biasa saja. Bahkan terkadang sangat terpuruk. Tapi namanya kehidupan yang layaknya roda berputar. Terkadang ada masa dibawah, ada pula saatnya diatas.

Saya tidak tahu persis, kapan tepatnya saya mulai suka membeli buku dan membaca. Mungkin kebiasaan ini tidak saya sadari sedari dulu. Dan mencapai puncaknya saat mulai bekerja, dimana karena tuntutan pekerjaan, mau tidak mau saya harus banyak membaca. Sebenarnya tidak hanya karena tuntutan pekerjaan. Faktor yang paling banyak berpengaruh mungkin karena saat mulai berkarir, dan belum berkeluarga, saya masih punya banyak waktu. Jadi untuk membunuh waktu itulah, banyak saya habiskan untuk mengeksplorasi toko buku dan membacanya di tempat kos sebagai ganti menonton TV. Bukan berarti saya anti nonton TV. Tapi membaca dapat saya lakukan kapan saja saya mau. Saat dipagi hari sebelum ke kantor, atau saat istirahat malam selepas kerja. Atau di kamar mandi saat buang air besar. Meskipun hanya dapat satu dua halaman. Atau bahkan hanya satu atau dua paragraf. Tidak menjadi masalah.

Sudah banyak buku yang saya baca. Meskipun diantaranya tidak selesai. Bahkan bisa jadi sebuah buku itu hanya separo yang saya baca. Tetapi untuk buku-buku yang menarik, bahkan bisa saya baca hingga dua kali.

Salah satu contohnya adalah Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Sebuah novel multidimensi. Ada yang menyebutnya novel penggugah jiwa. Atau bisa juga disebut novel roman, karena bercerita tentang cinta sesama anak manusia. Tidak salah juga disebut novel politik, saat penulis banyak bercerita tentang pengaruh kekuasaan otoriter pemerintah Mesir, layaknya pemerintahan Orde Baru di Indonesia.

Tokoh-tokohnya antara lain, Fahri, seorang mahasiswa Indonesia sederhana yang sedang menuntut ilmu di Al Azhar Cairo. Tokoh lain, saya sangat suka namanya terutama nama belakangnya, Nurul Azkiya. Mahasiswi putri seorang kyai di Indonesia yang punya sebuah pondok pesantren. Adapula tokoh yang bernama Maria, beragama Kristen, yang sangat fasih membaca Al-Quran.

Sangat jarang saya mendapatkan buku sebagus ini. Selain jalan ceritanya yang cukup memberi kejutan di setiap babnya, yang paling berkesan buat adalah pemilihan kata-katanya yang begitu indah. Sungguh tidak mudah untuk menhasilkan kata-kata indah seperti itu bagi seorang pemula. Dan saya terkejut saat melihat usia penulis yang masih cukup muda, kelahiran tahun 1976, tetapi sudah banyak hal diperbuatnya. Terutama di bidang penulisan. Dan bertambah gembira saat mengetahui ternyata dia berasal dari kota yang sama dengan saya. Kota yang begitu saya cintai, Semarang. Kota yang sering dianggap sebelah mata dalam banyak hal dibandingkan kota-kota besar lain di Pulau Jawa.

Buku lain yang menarik, dan kebetulan saat ini sedang saya baca, adalah In Praise of Slow karya Carl Honore. Seorang jurnalis, tinggal di London. Dia telah menulis untu Economist, Observer, National Post, dan Houston Cronicle.

Dia banyak bercerita tentang perlunya manusia saat ini untuk sedikit melambatkan tempo kehidupan sehari-hari. Semua orang berpikir dan bertindak memacu kecepatan. Mobil yang melaju serba cepat layaknya sebuah pesawat jet. Kecepatan komputer yang cepat sekali bertambah di waktu yang sangat pendek

Efek yang ditimbulkan oleh filosofi serba cepat itu tidak hanya efek positif. Tetapi juga efek negatif. Berapa orang yang mengalami tekanan atau depresi karena tuntutan pekerjaan yang semakin berat? Terlebih saat globalisasi seperti ini. Berapa banyak anak-anak yang sehari-hari tidak melihat ayah bahkan ibunya. Dipagi hari saat dia membuka mata, yang dilihatnya hanya sang baby sitter yang begitu setia menemani hari-harinya. Meskipun dengan gaji yang pas-pasan. Dan saat tidur di malam hari, ibunya pun belum menunjukkan batang hidungnya, karena masih sibuk dengan angka-angka yang begitu mencemaskan.

Sebenarnya filsafat lambat yang diulas di buku ini, tidak untuk melawan kecepatan dan ketergesa-gesaan yang sekarang mewabah dimana-mana. Prinsip utama dari filasat lambat ini yakni menyisihkan waktu untuk melakukan segala sesuatu secara lebih proporsional agar orang dapat lebih menikmati prosesnya. Apapun dampaknya terhadap neraca ekonomi, filsafat lambat memberikan hal-hal yang sangat membahagiakan kita, seperti kesehatan yang baik, lingkungan yang didambakan, hubungan masyarakat yang kuat, dan bebas dari hasrat untuk selalu tergesa-gesa.

Sungguh, buku ini begitu dahsyat buat saya. Inspiratif!. Saya tidak tahu persis mengapa saya begitu terinspirasi dengan buku ini. Mungkin karena saya begitu banyak menhabiskan waktu di tempat kerja. Tuntutan pekerjaan yang begitu tinggi, deadline ketat, komplain dari klien yang selalu menghantui. Urusan rumah tangga yang tiada berhenti muncul. Begitu berat. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk berhenti sejenak. Dan saya mendapat momen yang tepat.

Karena buku ini, saya menjadi merenung kembali, apa yang telah saya jalani selama ini, terutama masa 3 tahun terakhir yang begitu dinamis. Baik itu di tempat kerja maupun di rumah tangga.

Dan saya menemukan waktu yang tepat untuk menjalaninya. Berhenti sejenak, bersujud, merenung, berzikir, di akhir ramadhan kali ini.Dan bersilaturahmi untuk berharap hapusnya dosa di kampung halaman.

Ketika masih muda, kau cari harta dengan mengorbankan kesehatan;
Ketika tua, kau cari kembali kesehatan dengan mengorbankan hartamu.
Akhirnya yang kau dapat hanya sepetak tanah dan batu nisan
Karena yang kau miliki terhanya hanya hak pakai saja
dan tidak bisa dibawa ke akhirat.

Ketika di akhirat kau masih risau dengan mereka
yang ada di dunia.

Lalu apa yang dinamakan dengan kebahagiaan?
Padahal surga jelas-jelas ada di hadapanmu, tanah yang kau pijak dan tubuhmu adalah tanah suci adanya. Karena itu hidup momen demi momen adalah indah dan suci untuk dijalani, seperti halnya di dalam biji sudah ada pohon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: